In Bloom

Posted in In Bloom on 23 February 2009 by tidakadasinyalsamasekali

Adalah salah satu judul lagu Nirvana yang menceritakan tentang fanatisme buta. Nirvana menceritakan betapa banyak fans mereka yang sudah hafal lagu2 Nirvana, bahkan sampai meniru style, gaya hidup, dll tapi tidak mengerti maksudnya sama sekali. Kondisi ini sampai sekarang masih terjadi, bahkan semakin nyata. Terutama di kalangan abg. Banyak sekali kita lihat abg yang masih imut2, dengan memakai kaos hitam ketat lengan pendek bertuliskan My Chemical Romance, rantai nyantol di celana,celana model besar diatas tapi kecil dibawah, celana dalam kelihatan (yang belakangan saya baru tau kalau ternyata namanya boxer :D ) kemudian dengan bangganya mereka menyebut diri mereka emo,punk,atau bahkan rocker tanpa tahu sama sekali apa maksudnya..menyedihkan. Dan yang paling parah adalah saat ini banyak sekali ditemukan abg2 atau bahkan yang sudah beranjak dewasa memakai model rambut yang katanya emo, rambut yang panjang sebelah dan biasanya menutupi salah satu mata atau bahkan keduanya dengan rambut belakang yang lebih pendek dan rambut bagian atas terlihat njeprak tapi masih suka mendengarkan lagu2 soundtrack sinetron…hehehehe…parah memang. Padahal sebenarnya emo,punk,rock dll bukan hanya sekedar style,mode atau apapun itu tapi adalah bentuk pelampiasan,emosi,ketidakpuasan dll terhadap segala bentuk perlakuan yang mengekang kebebasan.
Remaja sekarang seperti sudah tersesat. Dan semua itu yang membawa adalah band2 dan artis2 instant yang banyak bermunculan. Mereka seperti tidak punya idealisme. Antara style dan musik bener2 ndak ketemu..hueeekk….Kalau pengen tau, ndak usah jauh2. Cukup liat di tivi2 swasta nasional kita, pasti gampang sekali menemukan band2 bangsanya Kangen Band, D’Massiv, Alexa, Salju Band, Seventeen, dll. Kita bisa perhatikan style mereka. Kalau dari dilihat dari style kita pasti setuju kalau kita bilang mereka rocker. Tapi pas kita dengar lagunya,,,waduuuhhh…..apa bener mereka yang nyanyi ??? Saya ndak bilang kalau musik mereka jelek, karena jujur saya juga suka beberapa lagu mereka. Tapi pas liat klip atau live-nya,,,langsung aja mati rasa !!!
Seorang musisi seharusnya bisa menempatkan diri mereka. Dalam hal ini adalah aliran. Kalau toh mereka memang konsen ke rock, ya jangan tanggung2. Rock kok cuman style tok. Apa ya ndak malu sama rocker2 tulen ??

.

who’s next ?

Posted in When The Revolution Come on 4 February 2009 by tidakadasinyalsamasekali

Ternyata manusia memang ndak bisa meninggalkan sifat aslinya, primitif. Segala sesuatu jika tidak bisa diselesaikan secara dialog, kebanyakan dilanjutkan dengan cara lama, keroyokan, kisruh, anarkis. Yang terbaru adalah meninggalnya Ketua DPRD SUMUT Abdul Aziz Angkat. Masalahnya tentang pro-kontra pembentukan propinsi Tapanuli. Secara eksplisit bisa dilihat bahwa dilihat bahwa terbentuknya propinsi baru berarti ada kebijakan baru, pemerintahan baru, dll yang bisa mempengaruhi kehidupan masyarakatnya. Tapi dibalik itu ada juga pendompleng2 yang mengharapkan keuntungan pribadi. Bisa kita bayangkan selanjutnya jika mereka menjadi petinggi baru di sebuah propinsi baru. Jabatan baru berarti tunjangan baru, rumah dinas baru, mobil dinas baru, dll yang bisa memperbanyak pundi2 harta mereka. Hmm.. memang sesuatu yang pantas untuk mengorbankan nyawa sepertinya….Sangat menyedihkan.
Sejak masa transisi orde baru-reformasi, bangsa Indonesia seperti dipermalukan oleh rakyatnya sendiri. Kebebasan berekspresi dan berpendapat seperti memberi ruang yang terlalu luas kepada rakyat untuk ikut campur dalam menentukan arah bangsa ini atau lebih tepatnya rakyat seperti dijadikan alat untuk memuluskan tujuan2 penjahat politik demi mendapat kekayaan dan prestise. Dibalik demonstrasi besar2an pasti ada nama besar yang menjadi otak,,Asu tenan !!!. Mungkin sudah saatnya Indonesia dipimpin oleh seorang diktator….hehehe…supaya hanya ada 1 otak tapi punya telinga daripada banyak otak tapi ndak punya telinga

finally…

Posted in 1 on 3 February 2009 by tidakadasinyalsamasekali

Uhhh….setelah hampir 25 tahun, akhirnya kemarin saya meninggalkan sebuah komunitas yang telah membesarkan saya, keluarga.

statis

Posted in When The Revolution Come on 31 January 2009 by tidakadasinyalsamasekali

Pagi tadi saya melihat rekaman wawancara dengan perwakilan dari PDIP dan Partai Demokrat di Metro TV. Temanya adalah tentang iklan politik yang sepertinya saling mencari kelemahan dan membanggakan diri sendiri. Pada awalnya Megawati membuat iklan politik yang sepertinya memperlihatkan kegagalan2 SBY sebagai presiden. Tapi SBY tidak tinggal diam. Dia kemudian bersama partainya membuat iklan politik jawaban yang berisi tentang pembelaan dengan data2 statistik yang kelihatan lebih akurat. Padahal jika kita bisa melihat bukan dari siapa yang ngomong, tapi hanya melihat konteks isi dari iklan itu, maka kita bisa melihat data yang benar2 lengkap mengenai keberhasilan dan kegagalan SBY. Entah bisa disebut keberhasilan atau bukan, saat ini yang paling dibanggakan adalah SBY bisa menurunkan harga BBM untuk yang ke-3 kalinya. Padahal, kata orang PDIP yang diwawancarai itu, BBM memang seharusnya turun karena harga minyak dunia sudah turun. Lalu pembelaan muncul dari PD. “Mengapa pada saat SBY menaikkan BBM dulu tidak ada kalimat ‘BBM memang semestinya naik karena harga minyak dunia melambung’?”. Yang satu menyalahkan, dan yang lain membuat pembenaran. PRET !!!. Debat kusir. Saur manuk. Saya sebagai rakyat biasa cuma bisa menunggu sampai kapan obral congor ini selesai.

just give me a sign !!!!!

Posted in When The Revolution Come on 31 January 2009 by tidakadasinyalsamasekali

Masih seperti kemarin. Headline koran, detik.com, tivi dan media massa kebanggaan bangsa Indonesia masih saja menampilkan kabar busuk penangkapan koruptor, antri minyak gas, kecelakaan transportasi, kerusuhan dan masih banyak berita yang bisa membuat ubun2 memanas. Masih belum ada tanda2 perubahan. Apalagi sekarang sedang musim kampanye. Mulut2 petinggi partai, caleg, dan JurKam2 berbusa-busa menawarkan perubahan. Tapi sayangnya yang ditawarkan hanya flashback penawaran masa lalu. Dengan sedikit merakit kata2 dan menambahkan istilah2 baru, muncul slogan2 sampah yang mengatasnamakan rakyat kecil, buruh, kaum perempuan, dan siapa saja yang sampai saat ini masih merangkak mencari keadilan. Rakyat seperti sudah mati rasa. Trauma kegagalan masa lalu sulit dilupakan karena sudah terlalu lama mereka menderita, terlalu sering dibohongi. Rakyat seperti hanya dijadikan pijakan. Dijadikan alas. Setelah sampai diatas, pijakan tidak akan dilihat lagi, dibuang. Huh,,,lebih baik masturbasi sambil nonton film bokep daripada menyaksikan kampanye tai kucing !!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.